Selamat Datang di Pimpinan Pusat Perguruan Seni Beladiri Indonesia " TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH "
Login Member
Username:
Password :
Profil Juara
Nahla Faiza Rahma
Juara II O2SN Siswi SD Muhammadiyah Serut Palbapang Bantul, Pesilat Tapak Suci Putera Muhammadiyah dari Kontingen D.I. Yogyakarta
:: Selengkapnya
Agenda
22 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Statistik

Total Hits : 6962
Pengunjung : 831
Hari ini :
Hits hari ini :
Member Online : 42
IP : 54.224.187.45
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

walyana.tapaksuci_online    pimpinanpusat_tapaksuci

Pendidikan Formal Pencak Silat, Harus Unggul dan Terukur

Tanggal : 07-09-2016 08:46, dibaca 482 kali.

Perkembangan dunia pendidikan kian maju dengan sistim dan metode pembelajarannya. Tapak Suci sebagai salah satu organisasi seni beladiri pencak silat yang sangat besar, dituntut pula untuk kian mengembangkan diri.

 

Melalui sistim pelatihan pencak silat, dalam hal ini kita istilahkan dengan ‘pendidikan’ pencak silat, selama ini Tapak Suci telah mengedepankan sistim pendidikan yang jelas dengan tingkatan yang disusun sedemikian rupa.  Mulai dari Siswa Dasar hingga tingkatan Kader maupun Pendekar, Tapak Suci memiliki kurikulum yang rapi dan sistimatis.

 

Namun dalam perkembangannya, profesionalitas pendidikan pencak silat, perlu mendapat perhatian lebih. Mengikuti perkembangan dunia pendidikan saat ini, penyusunan kurikulum formal pendidikan pencak silat menjadi begitu penting dicermati.

 

Sebagai contoh, standardisasi kependidikan di lembaga formal, ditandai dengan tersusunnya perangkat pembelajaran dengan matang. Adanya kurikulum, silabus materi ajar, rencana pembelajaran, dan kriteria penilaian serta kriteria ketuntasan. Ketika pendidikan pencak silat masuk menjadi bagian dari aktivitas pendidikan di lembaga pendidikan formal, baik dalam bentuk muatan lokal maupun sekedar aktivitas pengembangan diri, seringkali dituntut dan dipertanyakan mengenai perangkat pembelajaran tersebut.

 

Sementara itu, di lain pihak sebagai organisasi dan perguruan beladiri pencak silat yang kini telah berusia 53 tahun, Tapak Suci menjadi salah satu ajang pembinaan keterampilan beladiri pencak silat di berbagai pelosok, termasuk di tingkat sattuan pendidikan formal yang ada. Bila perangkat pendidikan formal telah disusun dengan standard profesional, tentunya akan lebih lagi dan dipastikan mendapat tempat di dunia pendidikan saat ini.

 

Begitu pula terkait dengan kepelatihan. Bila selama ini di Tapak Suci ada tingkatan yang disebut Kader, dengan warna sabuk biru, otomatis mereka dibenarkan menjadi pelatih bagi siswa. Dan dibenarkan mengampu salah satu atau beberapa cabang latihan. Dapat dipertanyakan, apakah setiap penyandang gelar Kader sudah dibekali dengan materi kepelatihan dan kependidikan?

 

Pelatih dalam hal ini, mungkin kita istilahkan dengan prediket ‘guru’ pencak silat. Seorang guru, tentunya memiliki keilmuan dan pengetahuan terkait bagaimana cara mendidik, bukan hanya hanya sekedar mengerti teknik mentransformasi keterampilan beladiri. Seorang guru, diharapkan mampu mendidik secara profesional setiap siswa yang diajarnya. Kriteria profesional bagi seorang guru, salah satunya adalah bentuk pengakuan dari kredibilitas yang dibawanya.

 

Ke depan, mencermati hal tersebut, Tapak Suci diharapkan bukan sekedar mengenalkan dan mengajarkan olah ragawi alias keterampilan membeladiri. Namun lebih jauh memiliki standard dan jurusan kependidikan bagi Kader-kadernya. Jadi, tidak setiap Kader Tapak Suci yang dibenarkan menjadi ‘guru’ pencak silat. Tapi mereka adalah orang-orang yang secara sengaja telah dipersiapkan melalui pendidikan kepelatihan yang sistimatis dan profesional.

 

Mengaplikasikan hal ini, bisa saja dengan menyusun dan mengadakan lembaga pusat pendidikan kepelatihan beladirir pencak silat Tapak Suci secara nasional. Dimana di lembaga tersebut, selain digodok seorang calon guru pencak silat, juga sekaligus sebagai pusat pengembangan pendidikan pencak silat itu sendiri. (*)

 

Nova Indra                                                                                

Pimpinan Lembaga Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati, Anggota Tapak Suci, dan Kepala Biro Diklat & Litbang PPWI



Pengirim : NOVA INDRA
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas