Selamat Datang di Pimpinan Pusat Perguruan Seni Beladiri Indonesia " TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH "
Login Member
Username:
Password :
Profil Juara
Nahla Faiza Rahma
Juara II O2SN Siswi SD Muhammadiyah Serut Palbapang Bantul, Pesilat Tapak Suci Putera Muhammadiyah dari Kontingen D.I. Yogyakarta
:: Selengkapnya
Agenda
30 May 2017
M
S
S
R
K
J
S
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Statistik

Total Hits : 6962
Pengunjung : 831
Hari ini :
Hits hari ini :
Member Online : 41
IP : 54.162.91.86
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

walyana.tapaksuci_online    pimpinanpusat_tapaksuci

Islam Larang Menyembah Patung, Kenapa Kaum Muslim Sujud kepada Ka’bah?

 

sangpencerah.com - Mengagungkan berhala atau memuja-muja patung jelas terlarang di dalam Islam. Ia termasuk bagian dari perbuatan syirik yang dapat menghapus seluruh amal kebaikan. kejelasan hukum tersebut telah ditegaskan dalam banyak nash, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW.


Namun, larangan ini seolah-olah sulit diterima oleh logika sebagian orang kafir. Pasalnya, pada satu sisi Islam menentang keras pemulian dan pengagungan terhadap benda mati atau patung. Akan tetapi di sisi yang lain, mereka mempertanyakan status umat Islam sendiri yang memuja-muja Ka’bah. Jika memang Islam menentang penyembahan terhadap patung atau berhala, mengapa kaum Muslimin sujud kepada Ka’bah?

Menjawab kebingungan logika tersebut, Dr. Zakir Abdul Karim Naik menjelaskan Ka’bah adalah kiblat, yaitu arah kaum Muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat bahwa, walaupun kaum Muslimin menghadap Ka’bah dalam shalat, mereka tidak menyembah Ka’bah. Kaum Muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144:

 قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh, Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya….”

Dalam hal ini, ada beberapa alasan kenapa kaum Muslimin bersujud menghadap ke arah Ka’bah berada, yaitu:

Pertama: Islam menghendaki persatuan

Ketika kaum Muslimin hendak menunaikan shalat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan. Untuk menyatukan kaum Muslimin dalam beribadah kepada Allah, maka kaum Muslimin di mana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka’bah. Kaum Muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka’bah, mereka salat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka’bah, mereka menghadap barat.

Kedua: Ka’bah adalah pusat peta dunia

Kaum Muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka’bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer (ahli membuat peta) Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, Alhamdulillah, Ka’bah terletak di tengah-tengah peta.

Ketiga: Tawaf keliling Ka’bah untuk menunjukkan keesaan Allah
Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka’bah. Perbuatan ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat, maka hanya Allah saja yang berhak disembah.

Keempat: Hadits Umar bin Khathab
Mengenai batu hitam, Hajar Aswad, Umar bin Khathab berkata, “Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Kelima: Orang berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan
Pada zaman Nabi, orang bahkan berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Bisa ditanyakan kepada mereka yang menuduh kaum Muslimin menyembah Ka’bah; penyembah berhala mana yang berdiri di atas berhala sesembahannya?
 
Disadur dari buku “Mereka Bertanya, Islam Menjawab” Penulis: Dr. Zakir Abdul Karim Naik, penerbit Aqwam(kiblat/sp)